Kue Keranjang Nian Gao : Simbol Kemakmuran Keluarga
Stanleyswear.com- Kue keranjang atau Nian Gao mengolah tepung ketan dan gula yang para pembuat kukus selama berjam-jam hingga adonannya mengental dan berubah menjadi tekstur lengket khas. Mereka kemudian mencetak adonan tersebut ke dalam wadah bulat dan membiarkannya mengeras perlahan.
Setelah siap, mereka menyajikan kue keranjang sebagai hidangan manis khas Imlek yang melambangkan keberuntungan dan harapan baik. Banyak orang juga mengolahnya kembali dengan cara digoreng atau dipadukan dengan bahan lain untuk menikmati rasa manis dan legitnya.
Legenda Kue Keranjang
Legenda kue keranjang menceritakan seorang Dewa Penjaga Dapur yang masyarakat sebut Dewa Zao Jun. Setiap tahun, Dewa Zao Jun kembali ke langit untuk melapor kepada Kaisar Langit tentang perilaku manusia di bumi.
Untuk mencegah laporan buruk, masyarakat membuat kue keranjang yang lengket agar dewa itu “sibuk mengunyah” dan tidak bisa menyampaikan hal-hal buruk. Mereka menyajikan kue manis ini sebagai simbol harapan agar tahun baru membawa keberuntungan, rezeki, dan hubungan keluarga yang semakin lengket.
Hingga kini, mereka tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian penting dari perayaan Tahun Baru Imlek.
Baca Juga: Kuliner Bandung: Makan Dulu, Diet Belakangan!
Makna dan Simbol Kue Keranjang
Bentuknya yang bulat dan kental melambangkan kesatuan keluarga yang erat kan hubungan yang langgeng.
Nama kue keranjang atau Nian Gao sendiri melambangkan kemakmuran. kata ‘Nian Gao’ terdengar seperti ‘semakin tinggi dari tahun ke tahun’.
Karena itulah kue ini melambangkan peningkatan diri dari tahun ke tahun, baik dalam pekerjaan, pendidikan, dan keluarga. Selain itu, kue ini juga diyakini dapat melindungi keluarga dari roh jahat.
